0
Apakah kamu memiliki cita-cita menjadi TNI? Cita-cita menjadi tni adalah sebuah yang sangat mulia.

Melalui artikel dengan judul cita-cita menjadi tni ini kami akan sedikit menulis pengalaman kami tentang mendaftar tni.

Sebagaimana telah dapat di ketahui hampir dapat di pastikan setiap pemuda dan pemudi di Indonesia cukup banyak yang mempunyai cita-cita untuk dapat menjadi seorang Tentara Nasional Indonesia dengan berbagai alasan tentu saja.

Memiliki cita-cita menjadi tni adalah sebuah cita-cita yang sangat mulia. Siapapun yang ingin menjadi seorang tni berarti ia telah siap mengorbankan diri untuk Negara. Membela keutuhan dan kedaulatan NKRI.

Potongan tubuh yang tegap, seragam yang keren, mungkin adalah dua dari banyaknya kelebihan yang di miliki oleh TNI yang di lihat oleh pemuda-pemudi Indonesia.

2 alasan ini setidaknya yang menjadi motivasi bagi segenap pemuda sehingga mengharapkan atau mempunyai cita-cita, kelak di kemudian hari dapat menjadi seorang anggota TNI.

Penulis pun dulu ketika masih usia remaja pernah sedikit mempunyai cita-cita untuk menjadi TNI.

Motivasi penulis khususnya adalah untuk melawan sosok-sosok oknum anggota TNI yang ketika itu kami anggap arogan.

Dengan hanya bermodalkan strip merah satu, berani melakukan hal-hal yang menurut penulis kurang pantas pada masa itu.


Oleh karenanya ketika itu penulis berharap agar dapat menjadi anggota TNI dengan strip kuning di bahu, untuk mengajarkan kepada mereka bahwasanya semua ada batasan-batasannya.

Tidak usah lah sok-sok an, banyak gaya, karena pada hakekatnya kita adalah sama, sama memiliki banyak kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Setelah penulis lulus SMU, penulis melanjutkan kembali belajar di sekolah umum setelah dari pondok selama 1 tahun, dengan mendapatkan nilai Danem yang cukup memuaskan. Penulis coba untuk mendaftar.

Tanpa izin dari orang tua, penulis memberanikan diri untuk mengurus segala sesuatunya dan melakukan pendaftaran dengan di temani oleh seorang teman.

Dalam proses pengurusan untuk pendaftaran tersebut, alhamdulillah penulis tidak mengalami suatu halangan apapun, hingga tiba saatnya pendaftaran.

Setelah pendaftaran, ada jeda waktu setelah di lakukan verifikasi administrasi.

Seperti biasa sebagaimana rekan - rekan yang lain, penulis pun cukup aktif latihan lari pagi dan sore hari, sit up, scot jump dan lain sebagainya dengan harapan fisik yang kuat dapat mengabulkan apa yang di harapkan penulis.

Verifikasi administrasi lolos, langkah selanjutnya adalah tes kesehatan, yang di lakukan di sebuah RS milik TNI. Seluruh peserta melakukan tes.

Tes pertama yang di lakukan adalah tes kesehatan. Tes kesehatan yang di lakukan, kurang lebihnya sama seperti yang telah rekan-rekan lain ceritakan, ketika mereka melakukan pendaftaran. 

Tes kesehatan berupa, tes penglihatan, pendengaran, kesehatan alat kelamin dan lain sebagainya.

Di sana lah penulis mengetahui dengan mata dan kepala sendiri, bahwasanya dalam proses Tes Kesehatan, pada suatu momen, sebagian peserta di satu ruangan di kumpulkan dengan tidak memakai satu helai pakaian pun dan itu nyata adanya. 

Hal itu akhirnya penulis alami sendiri, setelah cukup sering mendengarkan teman-teman yang pernah juga mendaftar menceritakannya, namun penulis masih belum percaya.

Akhirnya terbukti, bahwasanya memang pada suatu ketika dalam proses penerimaan untuk menjadi anggota TNI harus melepaskan seluruh pakaian yang menempel di tubuh dan di periksa oleh dokter atau staf kesehatan dengan jenis kelamin yang sama.

Setelah proses kesehatan kami lalui, di berikan keterangan untuk dapat hadir kembali beberapa hari kemudian ke tempat kami melakukan pendaftaran, untuk mendengarkan pengumuman.

Setelah kami datang di pagi hari, semua peserta bersama-sama hadir di dalam suatu ruangan mendengarkan apa yang di sampaikan oleh panitia pendaftaran untuk sesi berikutnya. 

Sangat kami sayangkan ternyata kami tidak di panggil namanya untuk melakukan tes selanjutnya, yakni Tes Jasmani.

Akhirnya hanya sampai di sana lah perjalanan penulis mencoba untuk menjadi seorang anggota TNI. Mungkin tidak seperti rekan-rekan lain yang terus mencoba. Penulis hanya melakukan 1 kali mendaftar saja.

Perlu kami sampaikan pula, penulis agak lupa kapan waktunya, kalau tidak salah sesaat akan pengumuman atau setelah pengumuman, entah tahu dari mana orang tua penulis akhirnya tahu kalau penulis mendaftar jadi TNI.

Setelah tahu, orang tua penulis mengajak penulis untuk menemui seseorang, yang mungkin salah satu panitianya.

Ketika itu yang beliau katakan, seingat penulis, kalau untuk mendapatkan kuning di bahu sepertinya anak bapak bisa mendapatkannya karena nilai akademisnya baik dll.

Namun kalau untuk strip kuning di pundak memang perjuangannya sangat berat. Setelah perbincangan lain-lain, kami akhirnya kembali pulang ke rumah.

Dalam perjalanan pulang kami mendiskusikan apa yang telah kami dengar secara langsung, namun penulis akhirnya memutuskan untuk tidak meneruskan apa yang penulis lakukan karena memang cita-cita menjadi TNI tersebut mungkin hanya sebatas keinginan sementara yang penulis rasakan karena melihat situasi tertentu saja.

Setelah hari itu penulis tidak pernah lagi membahas tentang masalah pendaftaran-pendaftaran untuk menjadi TNI, baik untk jenjang di bawahnya atau melalui TNI angkatan lainnya.

Bagi penulis, setidaknya penulis telah mendapatkan pengalaman yang cukup berharga, dengan dapat mengetahui proses pendaftaran secara langsung yang penulis alami, yang ternyata memang cukup berat untuk dapat di lewati oleh seorang calon TNI.

Yang dapat penulis ambil hikmahnya adalah Pertama sepanjang memungkinkan apa yang kita inginkan adalah benar-benar harus datang berdasarkan dari diri sendiri, bukan atas dorongan orang lain atau apapun itu bentuknya.

Kedua Seyogyanya apapun yang kita lakukan harus lah memberitahu dan meminta izin kepada orang tua terlebih dahulu agar apa yang akan kita lakukan mendapat izin dan ridho dariNYA.

Ketiga apapun diri kita nanti, jadi apapun kita kelak di kemudian hari, semua telah ada yang mengatur.

Bahwasanya jalan hidup seseorang adalah berbeda. Sepanjang berusaha dengan tekun dan serius, Inyaallah, kesuksesan itu akan datang juga.

Walaupun tentu ukuran suatu kesuksesan itu sendiri sangat relatif sifatnya. Seperti yang saat ini penulis alami.

Jika Anda pembaca blog ini mempuyai pendapat lain tentang cita-cita menjadi TNI. Dengan senang hati kami menunggu komentarnya di kotak komentar. Salam 

Posting Komentar Blogger

Terima kasih telah berkunjung. Silahkan tulis komentar Anda di bawah ini. Salam..

 
Top