0
Sebuah ucapan memang terkadang lebih menyakitkan jika di bandingkan dengan sebuah pukulan. Hal ini terbukti dari ucapan yang keluar dari seorang Perdana menteri Australia tentang Aceh. Sebuah ucapan yang mungkin tidak di maksudkan demikian, namun menjadi tidak seperti yang di harapkan. Karena ucapan tersebut keluar dari mulut seorang pembesar Negara.

Ucapan Perdana Mentri Australia Tony Abbot mengenai bantuan negara Australia yang pernah di berikan kepada Aceh, sebuah Propinsi di Indonesia, ketika sedang terjadi musibah Tsunami di Aceh, yang terjadi pada tanggal 26 desember tahun 2004, memantik sebuah gerakan Koin dari Aceh untuk Australia.

Tindakan gegabah yang di lakukan oleh Perdana Mentri Australia Tony Abbot membuat masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Aceh menjadi tersinggung. Gerakan koin Aceh untuk Australia timbul karena gegabahnya Perdana Mentri Tony Abbot ketika mengeluarkan pendapatnya tentang politik balas budi, sehubungan dengan akan di hukum matinya 2 orang warga negara Australia, yang di kenal dengan nama duo Bali Nine, yang telah menjadi terpidana narkoba.

Di satu sisi, kami melihat Perdana Mentri Tony Abbott berusaha untuk melindungi warga negaranya dari ancaman negara manapun, terlepas warga negaranya tersebut bersalah. Menurut kami hal seperti itu dapat menjadi suatu pelajaran bagi pemimpin bangsa Indonesia untuk melakukan hal yang sama secara maksimal dalam melindungi warga negaranya. Terlebih dalam melindungi warga negaranya yang sedang bekerja di luar negri.

Selayaknya rumah tangga, jika seorang pemimpin rumah tangga sudah tidak lagi memiliki wibawa di mata para tetangganya. Kemungkinan besar, seisi rumahnya pun tidak akan mendapatkan penghargaan. Begitu pula sebagai negara, jika pemimpin bangsa ini tidak dapat lagi terlihat berwibawa di mata dunia, maka warga negaranya pun akan menjadi warga negara kelas dua.

Namun di sisi yang lain, kami secara pribadi menyesalkan apa yang telah Perdana Mentri Tony Abbott sampaikan tentang hubungan Aceh dengan seorang terpidana narkoba. Selayaknya Perdana Mentri Tony Abbott menghormati hukum yang ada di NKRI.
Jika kembali di fikirkan secara bijak, sungguh jauh sekali korelasi antara membantu korban tsunami dengan terpidana narkoba duo Nine Bali. Jika dalam membantu korban tsunami di Aceh di masa lalu dapat di katakan membela kemanusiaan.

Ingin kah Tony Abbott saat ini di katakan sebagai pembela narkoba? Karena berusaha membantu warganegaranya yang telah menjadi terpidana narkoba. Bukankah narkoba adalah musuh bersama? Yang seharusnya setiap warganegara turut andil memeranginya. Jika Tony Abboot membela terpidana narkoba, berdiri di mana dia sesungguhnya??

Terlepas Australia telah menjadi tetangga yang baik, walaupun pada kenyataannya di era presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Australia pernah melakukan hal yang sangat tidak etis. Pemerintah Australia pernah melakukan penyadapan terhadap pemimpin bangsa ini.

Seyogya nya dalam kasus ini, Perdana Mentri Tony Abbott harus dapat memisahkan antara kepentingannya untuk melindungi warga negaranya dari hukuman, yang mungkin saja keputusannya tersebut adalah keputusan politik. Tony Aboott juga selayaknya tetap harus menghormati hukum yang ada di NKRI. Ibaratnya, kami tidak mengundang Anda ke rumah kami, tapi jika Anda datang ke rumah kami, kami pun harus menghormati Anda, begitu pula sebaliknya.

Dalam kasus ini, semoga kita seluruh masyarakat Indonesia dapat belajar untuk mengambil hikmah dalam setiap kejadian. Khususnya terhadap para pemimpin bangsa ini, belajarlah dari bangsa lain, bagaimana mereka melakukan upaya-upaya sedemikian rupa untuk melindungi warga negaranya. 

Namun yang lebih penting lagi menurut kami adalah bagaimana caranya agar bangsa Indonesia dapat lebih terlihat berwibawa lagi di mata negara lain, sehingga warga negaranya pun akan lebih di hargai sekalipun mereka hanya menjadi penata laksana rumah tangga.

Semoga kejadian yang menyebabkan timbulnya gerakan koin dari Aceh untuk Australia ini tidak membawa dampak buruk yang lebih luas lagi. Semoga kedua pemimpin bangsa ini dapat lebih arif dalam menyikapi permasalahan yang sedang terjadi.

Dan semoga pula Indonesia tetap dapat menjadi tetangga yang baik bagi Australia, begitu pula sebaliknya. Sehingga kelak di masa depan tidak akan ada lagi gerakan koin dari Aceh untuk Australia atau gerakan-gerakan lainnya.

Kami percaya apa yang di katakan oleh Perdana Mentri Tony Abbot tidak di sepakati oleh sebagian besar rakyatnya. Hal ini terbukti dari berbagai macam pendapat yang beredar di media sosial. Kami pun percaya warga Australia sama seperti kami, lebih mencintai perdamaian. 

Namun tentu saja, jika kami di haruskan untuk memilih antara di rendahkan atau perang. Maka kami akan memilih perang. Salam

Posting Komentar Blogger

Terima kasih telah berkunjung. Silahkan tulis komentar Anda yang berkaitan dengan artikel

 
Top