0
Bagaimana perasaan kamu ketika pertama kali memakai seragam putih abu-abu? Excited banget bukan? Sesuatu banget pastinya. Begitu juga yang penulis rasakan ketika untuk pertama kalinya memakai seragam abu-abu.

Tahun 1993/1994 adalah sebuah tahun yang untuk pertama kalinya penulis merasakan menggunakan pakaian seragam putih abu-abu. Dengan memakai seragam ini perasaan penulis sangat senang dan gembira sekali. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama memakai celana pendek, akhirnya penulis merasakan juga memakai seragam putih abu-abu.
Sungguh masa remaja yang sangat menyenangkan, hampir tidak ada permasalahan yang cukup besar penulis alami. Semua mengalir sedemikian rupa seakan tidak ada permasalahan apa-apa. Suatu perasaan yang mungkin agak sulit di dapatkan ketika usia menjelang dewasa.

Namun bukan berarti di usia remaja tersebut penulis tidak mengalami permasalahan. Permasalahan tetap datang sebagaimana yang telah di gariskan oleh Tuhan. Permasalahan yang sangat penting bagi penulis saat itu adalah ketika penulis harus memutuskan apa yang harus penulis akan lakukan ke depan. Mengikuti kehendak orang tua yang menginginkan penulis melanjutkan proses belajar di sebuah pondok pesantren atau mengikuti kehendak pribadi penulis yang ingin melanjutkan ke sebuah SMA umum yang penulis impikan.

Secara akademis, alhamdulillah mestinya penulis mampu untuk mendapatkan sebuah bangku di sekolah yang cukup favorit di kota Penulis. Namun kehendak orang tua telah membuat penulis harus belajar untuk berani membuat keputusan yang terbaik.

Keputusan pertama yang harus penulis buat, suatu keputusan yang kami rasakan sangat sulit waktu itu. Sebuah keputusan yang akhirnya membawa kepada keadaaan penulis saat ini. Sebuah keputusan yang sangat besar.

Sebagaimana yang telah penulis sampaikan dalam tulisan yang berjudul ketika hidup harus memilih. Sungguh setiap kita dalam keadaan tertentu harus mampu memutuskan suatu pilihan dari 2 atau lebih pilihan. Setiap keputusan yang kita ambil saat ini, akan menentukan kehidupan kita di masa depan.

Sebagaimana keputusan yang penulis ambil dahulu, sebuah keputusan yang saat itu sangat berat karena berlawanan dengan keinginan pribadi penulis. Namun dengan niat menyenangkan hati orang tua, akhirnya penulis memutuskan untuk menerima apa yang telah menjadi keputusan orang tua untuk mengirim penulis belajar di sebuah pondok pesantren di pulau jawa.

Perasaan penulis ketika itu seakan-akan orang tua penulis tidak menyayangi penulis. Seakan-akan orang tua penulis tidak ingin mengurusi penulis. Bahkan penulis pernah berfikir, orang tua penulis "membuang" penulis dengan cara mengirim belajar di pondok pesantren.

Namun ketika penulis telah belajar di sana, ketika penulis beranjak dewasa, akhirnya penulis menyadari bahwa apa yang telah di putuskan oleh orang tua penulis adalah jalan yang terbaik. Dengan penulis belajar di pondok pesantren, penulis dapat belajar Agama dengan lebih baik. Belajar tentang kedisiplinan. Belajar tentang bermasyarakat. Banyak hal yang penulis dapatkan di sana.

Sungguh jika saja penulis waktu itu tidak mengikuti kehendak orang tua, seandainya penulis waktu itu bertahan dengan keegoisan penulis. Mungkin saat ini penulis tidak dapat menjadi seperti penulis saat ini. Mampu memimpin sebuah sekolah, mampu memimpin sebuah pondok pesantren, mampu memimpin pengajian sekaligus memimpin doa'a. Yang ternyata kemampuan tersebut masih cukup langka di lingkungan teman dan sahabat penulis.

Kesimpulannya adalah setiap orang harus belajar berani untuk mengambil setiap keputusan. Tidak ada salahnya menyenangkan hati orang tua. Bahkan mungkin akan banyak hikmah di dalamnya. Setiap keputusan yang kita akan ambil tentu akan menimbulkan konsekwensi-konsekwensi tersendiri. Namun perlu juga di ingat, setiap keputusan yang kita ambil saat ini akan membawa dampak yang sangat besar di masa depan.

Jadi berhati-hatilah untuk mengambil keputusan. Semoga bermanfaat

Posting Komentar Blogger

Terima kasih telah berkunjung. Silahkan tulis komentar Anda yang berkaitan dengan artikel

 
Top