0
Koruptor dan Media - Sungguh aneh koruptor Indonesia. Mereka di tangkap, di tahan tapi masih juga dapat tersenyum dan tertawa di depan publik. Seakan-akan meremehkan hukum dan menganggap diri nya tidak bersalah. Ada apa dengan mereka? Apakah sudah hilang urat malunya??

Sebagaimana telah di ketahui bersama bahwasanya akhir-akhir ini semakin banyak saja para korutor yang di tangkap oleh Komisi pemberantasan Korupsi, KPK. Belum lagi para koruptor yang di tahan oleh pihak Kepolisian dan Kejaksaan.

Beberapa kasus yang sempat menghebohkan dan menarik perhatian publik seperti kasus Anas Urbaningrum, kasus Ratu Atut Gubernur Banten, dan lain sebagainya. Hingga akhir-akhir ini di tahannya Gubernur Sumatra Utara dan salah seorang wakil rakyat di DPR RI.
Koruptor dan Media
Berbagai macam modus korupsi mereka lakukan. Dari menerima suap, memberi suap, mengatur pengadaan proyek hingga menggunakan dana bantuan sosial yang semestinya di gunakan untuk keperluan membantu masyarakat mereka ambil, mereka curi.

Media sebagai salah satu sarana informasi publik seakan juga menjadi senang akan adanya peristiwa ini. Tidak lain dengan peristiwa yang terjadi awak media mendapatkan berita yang memiliki nilai jual cukup tinggi. Karena memang berbagai kasus korupsi yang melanda negeri ini menjadi perhatian besar masyarakat dari berbagai golongan.

Sayang nya media yang memiliki kontribusi besar untuk mencari dan mendapatkan berita-berita tentang korupsi seakan-akan di jadikan suatu kesempatan bagi para koruptor untuk selfie-selfie. Mereka para koruptor unjuk diri di depan publik hingga membuat mereka terkenal.

Hubungan yang seharusnya membuat malu para koruptor itu sebaliknya di jadikan semacam cara dan tameng untuk menyatakan bahwasanya diri mereka jelas-jelas tidak bersalah di hadapan publik. Jujur saja hal ini mengganggu hati nurani kami.

Seakan-akan hukuman yang menanti tidak membuat mereka takut. Mereka seakan-akan memiliki kekuatan lebih untuk tetap dapat terlihat tampil secara sempurna di depan publik. Seakan-akan mereka sama sekali tidak merasa bersalah.

Menurut kami hal ini menjadi salah satu pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah. Agar hal ini tidak terus terjadi seyogyanya pemerintah terus menerus berupaya untuk menegakkan hukum secara adil dan tanpa pandang bulu. Agar masyarakat tidak bimbang dan ragu bahwasanya mereka yang telah menjadi tersangka korupsi adalah benar sedikitnya telah memiliki bukti.

Koruptor yang di tangkap kepolisian atau Kejaksaan boleh jadi dapat berhenti kasusnya karena ada SP3, Surat perintah penyidikan perkara. Namun jika koruptor tersebut di tangkap KPK maka sulit bagi mereka untuk dapat lepas dari jeratan hukum. 

Oleh karenanya hampir dapat di pastikan seorang koruptor yang di tangkap KPK memiliki kesalahan, melakukan perbuatan korupsi seperti yang telah di tuduhkan, dan hampir pasti peristiwa korupsi tersebut dapat di buktikan di pengadilan. 

Hukum berat para koruptor bila perlu miskin kan mereka jika mereka benar terbukti telah mencuri uang negara. Terlebih lagi jika koruptor tersebut adalah pejabat negara. Sita semua hartanya untuk negara. Agar mereka jera dan calon-calon koruptor lainnya merasa takut untuk melakukannya.

Jangan pernah sebuah kasus korupsi di politisasi karena hal ini akan membuat masyarakat kebingungan untuk dapat memberikan penilaian. Siapa yang bersalah dan siapa yang tidak. Hal ini lah yang menuntut penegakkan hukum harus memiliki prinsip keadilan.

Dan untuk media kami harapkan untuk tidak lagi memberikan ruang kepada para koruptor yang terlihat sekan-akan terus membela diri. Jangan berikan ruang kepada mereka untuk dapat menjadi artis dadakan. Berita perlu di cari, uang di butuhkan. Namun jangan sampai berita dan informasi yang di berikan dapat menjadi bias di tengah-tengah masyarakat.

Semoga penegakan hukum di Republik Indonesia semakin baik. Semoga koruptor semakin berkurang. Semoga pula media menjadi lebih arif dalam mencari berita. Salam

Posting Komentar Blogger

Terima kasih telah berkunjung. Silahkan tulis komentar Anda di bawah ini. Salam..

 
Top